Visi Kami
Misi Kami
Sejarah Kami
Visi Kami
Menjadi perusahaan manajer investasi yang terkemuka
Produk Kami
Saat ini KIMI menawarkan produk reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran yang dapat anda pilih sesuai dengan kebutuhan anda
1.408,53
KIOF
Selengkapnya
1.280,59
KIBPF
Selengkapnya
Tim Kami
Kim Beum Soon
Komisaris Utama
Kim Beum Soon menjabat sebagai Komisaris Utama PT Kiwoom Investment Management Indonesia. Beliau menempuh Pendidikan dengan major Business Adminsitration dari Dong Eui University di kota Busan, Korea Selatan. Sebelum bergabung dengan Kiwoom Investment Management Indonesia, Kim Beum Soon juga menjabat sebagai President Director di Samlip Industry dan President Commissioner di PT Pratama Abadi Industri
Kim Beum Soon
Komisaris Utama
Adrianto H
Komisaris
Sudjadi Uganda
Direktur Utama
Artikel
Subsidi Membengkak, Begini Cara Pemerintah Genjot Penerimaan Negara
KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemerintah berupaya meningkatkan pundi-pundi negara pada tahun ini. Hal ini sejalan dengan pengeluaran pemerintah tahun ini yang diramal membengkak, termasuk bertambahnya anggaran subsidi energi. Belanja negara di akhir tahun 2022 diperkirakan tembus Rp 3.106,4 triliun. Nilai ini lebih besar Rp 392,3 triliun dari target awal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar Rp 2.714,2 triliun. Khusus untuk anggaran subsidi energi, diperkirakan mencapai Rp 208,9 triliun, naik Rp 74,9 triliun dari target awal APBN 2022 yang dipatok Rp 134 triliun. Angka ini belum termasuk kenaikan utang pemerintah kepada PT Pertamina dan PT PLN karena batalnya rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), elpiji, maupun tarif listrik. Untuk mendanai pembengkakan anggaran belanja subsidi tersebut, pemerintah mengandalkan penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP), maupun Sisa Anggaran Lebih (SAL), selain menambah utang. Dari sisi pajak, hingga akhir tahun realisasinya diperkirakan mencapai Rp 1.450 triliun hingga Rp 1.485 triliun. Jumlah itu jauh lebih tinggi dari target Rp 1.265,00 triliun. Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Ihsan Priyawibawa mengatakan, pihaknya akan mengoptimalkan semua potensi dan sumber daya yang ada. Mulai pengawasan pembayaran yang dilakukan soal sumber penerimaan tahun berjalan, hingga pengujian kepatuhan material wajib pajak. Dari sisi PNBP, pemerintah memperkirakan realisasi akhir tahun mencapai Rp 481,6 triliun, lebih tinggi dari target awal sebesar Rp 335,6 triliun. Selain karena kenaikan harga komoditas, PNBP juga akan didorong oleh meningkatnya layanan kementerian dan lembaga (K/L). Direktur PNBP Sumber Daya Alam dan Kekayaan Negara Dipisahkan Kemenkeu Kuria Chairi bilang, PNBP layanan K/L akan membaik seiring dengan adanya inovasi dan mulai pulihnya aktivitas masyarakat sejalan dengan penurunan kasus Covid-19. "Mudah-mudahan dengan penurunan kasus Covid-19 (PNBP) akan ada peningkatan," kata Kurnia kepada KONTAN, Minggu (29/5). Adapun dari sisi SAL, pemerintah berencana menggunakan dana sebesar Rp 50 triliun dari pos anggaran tersebut, pada tahun ini. Sebelumnya, Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute (TRI) Prianto Budi Saptono memperkirakan, penerimaan pajak tahun ini juga bakal moncer, melanjutkan tren tahun lalu. Hitungan Prianto, penerimaan pajak tahun ini bisa mencapai Rp 1.631 triliun. Sementara itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan penerimaan PNBP akhir tahun mencapai 200% dari target awal. Hal ini dorong oleh komponen SDA dan setoran dividen badan usaha milik negara (BUMN) yang kembali membaik. Reporter: Bidara Pink, Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
Selengkapnya
BPS Sebut Perekonomian Indonesia Telah Kembali ke Level Pra Covid-19
KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) membawa kabar gembira terkait kondisi perekonomian Indonesia. Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, perekonomian Indonesia pada kuartal I-2022, sudah melampaui kondisi perekonomian pra Covid-19 atau setidaknya melampaui kondisi kuartal I-2019.  Margo menjelaskan, kondisi ini bisa dilihat dari besaran Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita berdasarkan harga konstan. Dari data otoritas statistik, PDB per kapita harga konstan pada kuartal I-2022 tercatat Rp 10,2 juta, sedangkan PDB per kapita harga konstan kuartal I-2019 tercatat Rp 9,9 juta.  “Dengan meningkatnya level PDB per kapita harga konstan ini, saya bisa mengatakan bahwa kondisi kuartal I-2022 sudah membaik dan mengarah pada level sebelum krisis,” terang Margo.  Hanya saja, Margo menyayangkan kondisi perbaikan ekonomi ini belum terlalu diikuti dengan pemulihan kondisi ketenagakerjaan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2022 tercatat 8,40 juta. Jumlah ini masih jauh lebih tinggi dari periode Februari 2020 yang tercatat 6,93 juta orang. Seperti kita ketahui, pada Februari 2020 waktu itu belum ada pengumuman masuknya kasus Covid-19 di Indonesia.  Meski begitu, Margo tetap mengapresiasi. Pasalnya, ada penurunan tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2022, bila dibandingkan dengan periode Februari 2021 yang pada waktu itu tercatat 8,75 juta orang.  Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli
Selengkapnya
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,01% Berhasil Menyerap 4,55 Juta Tenaga Kerja
KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I-2022 sebesar 5,01% berhasil menyerap tenaga kerja pada Februari 2022 sebanyak 4,55 juta orang. “Pertumbuhan ekonomi yang tadi saya sampaikan pada Kuartal I-2022 yang tumbuhnya 5,01%, ini kalau saya kaitkan penyerapan tenaga kerja khususnya pada Februari 2022 mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 4,55 juta orang,” ujar Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers secara virtual, Senin (9/5). Tenaga kerja yang berhasil terserap 4,55 juta orang itu terdiri dari pekerja penuh waktu, pekerja paruh waktu dan setengah penganggur. Pekerja paruh waktu adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu, tetapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain. Sedangkan setengah penganggur adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu, dan masih mencari atau menerima pekerjaan tambahan. Dari data BPS, pekerja penuh sebanyak 88,42 juta orang atau meningkat sebesar 4,28 juta orang. Sedangkan pekerja paruh waktu sebanyak 36,54 juta orang atau terkerek naik sebanyak 1,04 juta orang. Sementara itu, setengah penganggur sebanyak 10,65 juta orang atau turun 0,77 juta orang. Dengan begitu, jumlah tenaga kerja yang berhasil terserap pada Februari 2022 sebanyak 4,55 juta orang. Lebih lanjut, jumlah angkatan kerja pada Februari 2022 sebanyak 144,01 juta orang atau naik 4,20 juta orang jika dibandingkan pada Februari 2021. Sedangkan penduduk yang bekerja sebanyak 135,61 juta orang atau naik sebanyak 4,55 juta orang dari periode Februari 2021. Margo menambahkan, terdapat 3 sektor lapangan usaha yang memberikan andil terbesar dalam penyerapan tenaga kerja pada Februari 2022. Selama Februari 2021 hingga Februari 2022, tenaga kerja yang terserap pada lapangan usaha pertanian sekitar 1,86 juta orang. Sementara tenaga kerja yang terserap pada lapangan usaha industri pengolahan dan perdagangan masing-masing sekitar 850.000 dan 640.000 tenaga kerja. “Ketiga lapangan tersebut itu sudah memberikan kontribusi sebesar 62,76%,” kata Margo. Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
Selengkapnya
Rekan Kami